1.
PENDAHULUAN
Seiring
dengan berkembangnya zaman serta kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
kehidupan manusia akan terus-menerus mengalami perubahan sama halnya dengan
otomotif. Dalam dunia otomotif sudah banyak perubahan dan inovasi baru yang
terjadi setiap saat. Terjadinya perubahan dan inovasi tersebut disebabkan oleh
kebutuhan masyarakat yang semakin bertambah dan beranekaragam. Ini menunjukkan
bahwa ada keterkaitan antara perubahan yang terjadi dengan kebutuhan masyarakat
yang ada.
Dengan
kebutuhan masyarakat yang semakin bertambah dan beraneka ragam, secara otomatis
produsen dituntut untuk selalu berinovasi dan membuat perubahan-perubahan baru
yang akan memenuhi kebutuhan konsumennya tersebut. Contoh pada bidang otomotif,
produsen kendaraan bermotor akan terus melakukan inovasi dalam rangka untuk
meningkatkan kualitas dan mutu agar dapat memenuhi kebutuhan para konsumennya.
Tidak jarang ada juga konsumen yang sengaja mengubah atau memodifikasi
kendaraannya sendiri agar terlihat lebih menarik. Modifikasi sepeda motor tidak
hanya identik dengan memodifikasi penampilannya saja tetapi juga berhubungan
dengan performa mesinnya ketika di jalan. Performa mesin juga dapat
dimodifikasi dengan cara mengganti spare
part atau memadatkan kompresi
mesin.
Dalam
dunia otomotif sering dikenal istilah kompresi,
kompresi rasio, dan tekanan kompresi.
Tidak jarang banyak orang yang membicarakannya, namun kadang ada juga yang
kurang mengerti arti kompresi tersebut.
Daryanto (2002:23) menyimpulkan bahwa ”bilamana torak bergerak dari TMB ke TMA dalam langkah kompresi, campuran bahan bakar dan udara dikompresikan dan tekanan dalam silinder naik, tekanan ini disebut
tekanan kompresi”. Kompresi biasa disebut untuk menunjukkan
proses langkah kompresi yang ada
dalam salah satu siklus 4 langkah. Siklus 4 langkah tersebut terdiri dari (1)
langkah hisap (suction stroke), (2)
langkah kompresi (compression stroke), (3) langkah usaha (power stroke), dan (4) langkah buang (exhaust stroke).
Ada
beberapa cara yang biasa digunakan para pecinta otomotif untuk meningkatkan
tenaga mesin yaitu dengan cara mengganti CDI,
piston, camshaft, knalpot, porting
polish, menaikkan langkah mesin, dan memadatkan tekanan kompresi dengan cara memapras head silinder. Sebenarnya masih banyak
cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan tenaga maupun memadatkan kompresi. Salah satunya adalah dengan
cara memapras head silinder.
Arianto
(2011) berpendapat bahwa “memapras head silinder
adalah suatu cara yang dilakukan untuk memadatkan kompresi dengan cara membubut atau memapras bagian head silinder
agar ruang pembakarannya menjadi lebih kecil”. Cara ini jarang bahkan tidak
pernah digunakan karena hasilnya kurang memuaskan. Hal ini disebabkan cara ini
dianggap hanya menambah sedikit dari tenaga mesin itu sendiri. Padahal, jika
cara ini diperhitungkan dengan baik maka hasilnya akan sangat memuaskan. Dalam
perhitungannya cara ini dituntut harus akutrat. Apabila dalam perhitungannya
ada kesalahan sedikit maka akan berakibat fatal pada mesin tersebut.
Hasil-hasil
yang dapat dicapai ketika cara memapras head
silinder diperhitungkan dan diterapkan dengan baik yaitu dapat menambah
tenaga mesin, menghemat bahan bakar, serta membuat mesin menjadi lebih awet.
Selain itu cara ini adalah cara yang paling mudah, murah, serta efisien
dibandingkan dengan cara-cara yang lainnya. Masih banyak lagi keuntungan yang
dapat diperoleh apabila memadatkan kompresi
menggunakan cara ini. Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan dibahas
mengenai pemadatan kompresi dengan
cara memapras head silinder dengan
judul makalah Peningkatan Tenaga Mesin dengan
Cara Pemadatan Kompresi (Memapras Head Silinder).
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang akan dirumuskan dalam
makalah ini adalah (1) bagaimanakah cara-cara memadatkan kompresi, (2) bagaimanakah karakter sepeda motor yang kompresi-nya sudah di padatkan (3) apa sajakah
keuntungan dan kerugian memadatan kompresi
dengan cara memapras head silinder, (4) apa sajakah kendala-kendala yang
dialami ketika memadatkan kompresi dengan
cara memapras head silinder, dan (5)
bagaimanakah cara-cara perawatan mesin motor yang sudah dipadatkan kompresinya.
2. PEMBAHASAN
2.1 Cara-Cara Memadatkan Kompresi
Arianto
(2011) mengemukakan bahwa ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
memadatkan kompresi yaitu piston dapat
diganti dengan model racing, mengelas
head silinder pada ruang pembakarannya,
membubut/memapras blok silinder pada
bagian atas, mendekatkan deck clearance,
dan membubut atau memapras head silinder.
Dari beberapa cara tersebut ada satu cara yaitu
membubut/memapras head silinder yang hampir tidak pernah
digunakan oleh sebagian besar orang karena dianggap hanya sedikit berdampak
pada tenaga mesin motor. Padahal, apabila cara ini diperhitungkan dengan baik
dan benar maka akan dihasilkan daya dan tenaga yang maksimal.
Arianto
(2011) berpendapat bahwa “memapras head
silinder adalah suatu cara yang dilakukan untuk memadatkan kompresi dengan cara membubut atau
memapras bagian head silinder agar ruang pembakarannya
menjadi lebih kecil”. Dalam proses pengerjaanya cara ini dibagi menjadi
beberapa tahap yaitu tahap perhitungan, pemaprasan/pembubutan, pemasangan, dan
uji coba.
Pada
tahap perhitungan, jenis kendaraan akan mempengaruhi dalam proses perhitungan kompresi pada kendaraan tersebut. Karena
pada dasarnya setiap kendaraan memiliki karakter yang berbeda, sehingga dalam
proses pehitungannya juga berbeda. Tahap ini dilakukan ketika kendaraan masih
dalam keadaan standar, yaitu pada saat sebelum mesin dipapras. Perhitungan
tersebut meliputi perhitunggan tekanan kompresi
awal, kompresi rasio/perbandingan kompresi,
volume ruang bakar, dan tekanan kompresi
yang dikehendaki.
Setelah
tahap perhitungan selesai dilakukan, tahap selanjutnya adalah tahap
pemaprasan/pembubutan. Tahap ini harus dikerjakan sesuai dengan perhitungan
yang telah dilakukan sebelumnya. Tahap ini juga sangat membutuhkan ketelitian
dalam proses pengerjaannya, karena tahap ini adalah tahap inti dari proses
pengarjaan pemadatan kompresi. Ketelitan
dalam tahap ini meliputi keteltian pemaprasan/pembubutan yaitu pemaprasan harus
tepat sesuai dengan perhitungan, permukaan yang dipapras harus rata dan halus,
serta harus presisi agar mendapatkan
hasil yang maksimal.
Setelah
tahap pemaprasan/pembubutan selesai dilakukan, tahap selanjut-nya yang harus
dilakukan adalah tahap pemasangan. Tahap ini adalah tahap ketiga dari proses
pemadatan kompresi, yang tidak kalah
pentingnya dari proses-proses sebelumnya. Tahap ini sebaiknya dilakukan oleh
teknisi-teknisi andal karena tahap ini dibutuhkan ketelitian yang tinggi dalam
proses pemasangannya, agar tidak terjadi kebocoran pada head silinder. Karena ketika head
silinder mengalami kebocoran maka kendaraan tersebut tidak dapat
mengeluarkan tenaga secara maksimal, bahkan tidak dapat hidup.
Setelah
tahap pemasangan, tahap yang selanjutnya akan dilakukan adalah tahap uji coba.
Tahap ini adalah tahap akhir dalam proses pemadatan kompresi. Tahap ini dilakukan dengan tujuan untuk mencoba dan
membandingkan tenaga mesin sebelum dan sesudah pemadatan kompresi, apabila setelah pemadatan kompresi tenaga mesin menjadi bertambah maka proses pemadatan kompresi dengan menggunakan cara
memapras head silinder dapat
dikatakan sukses. Sebaliknya apabila setelah pemadatan kompresi tenaga tidak bertambah maka proses pemadatan dikatakan
tidak sukses, dan masih harus diteliti lagi penyebab-nya.
Daryanto (1999:13) berpendapat bahwa “perbandingan antara
isi silinder di atas torak pada TMB dan isi silinder di atas torak pada TMA
danamakan perbandingan kompresi atau kompresi rasio”. Dalam hal ini
perhitungan kompresi rasio atau perbandingan
kompresi juga sangat menentukan
keberhasilan dalam pemadatan kompresi.
Perhitungan ini akan dilakukan setelah head
silinder selesai dipapras, setelah itu head
silinder dipasang pada mesin.
Kemudian mesin tersebut akan diukur tekanan kompresinya
dengan menggunakan suatu alat yang bernama compresi
tester.
Compresi tester adalah suatu alat yang digunakan untuk
mengukur tekanan kompresi pada suatu
mesin motor. Alat ini dipasang pada bagian busi sehingga ketika mesin
motor di starter menggunakan kick
starter maka mesin tersebut secara otomatis akan menghasilkan kompresi yang akan langsung dapat diukur
dan diketahui besar kompresinya dengan
menggunakan alat tersebut. Alat ini juga dapat memberi gambaran tentang keadaan
motor, kebocoran katub, ring piston,
atau packing head silinder.
2.2 Karakter Sepeda Motor yang Sudah
Dipadatkan Kompresinya
Ada beberapa karakter sepeda motor
yang sudah dipadatkan kompresinya, antara lain sebagai berikut.
1. Acceleration/percepatan kendaraan tersebut menjadi lebih cepat
Hal ini disebabkan karena sudah bertambahnya tekanan kompresi pada mesin tersebut. Semakin
besar tekanan kompresi suatu mesin
maka semakin besar juga percepatannya.
2. Memiliki tingkat
pemanasan mesin yang cukup tinggi
Dalam pemakaian-nya,
terutama pemakaian jarak jauh ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu
bahan bakar, oli yang digunakan, dan jarak tempuh. Bahan bakar harus memiliki
nilai oktan yang tinggi, misalnya pertamak biru (92) atau pertamak plus (95).
Oli yang digunakan harus oli yang baik (tidak palsu) dan sebaiknya diganti
sebelum menempuh jarak yang jauh. Selain bahan bakar dan oli, jarak tempuh juga
harus diperhatikan. Jarak tempuh yang terlalu jauh akan berakibat buruk pada
mesin, hal ini dapat diantisipasi dengan cara melakukan istirahat sejenak untuk
mendinginnkan mesin dan agar mesin tidak terlalu panas. Seteleh mesin dianggap
sudah cukup dingin maka perjalanan dapat dilanjutkan.
3.
Membutuhkan perawatan yang lebih
Perawatan ini dilakukan secara
berkala berbeda dengan motor standar yang melakukan servis setiap 2000-5000 km,
motor yang sudah dipadatkan kompresinya
harus diservis setiap 1500-2000 km. Jadi, demi merawat kestabilan tenaga mesin
motor yang sudah dipadatkan kompresinya
harus dilakukan servis secara teratur.
2.3
Keuntungan dan Kerugian Pemadatan Kompresi
dengan Cara Memapras Head Silinder
Ada beberapa
keuntungan yang diperoleh ketika memadatkan kompresi
dengan menggunakan cara memapras head
silinnder, antara lain sebagai berikut.
1. Cara ini lebih mudah
dan murah dibandingkan dengan cara-cara yang lainnya
Dalam proses pengerjaannya, cara ini
hanya dikhususkan pada pengerjaan head
silinder saja, tidak perlu melepas/mengerjakan bagian-bagian mesin yang
lain. Cara ini juga dapat dikatakan lebih murah karena hanya memapras bagian head silinder saja, setelah itu dipasang
kembali pada mesin. Dibandingkan dengan cara-cara lain yang harus membongkar
semua bagian mesin dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
2. Sangat sederhana,
tetapi hasilnya memuaskan
Cara ini sangat sederhana, karena hanya melepas dan
memapras bagian head silinder saja
tidak perlu membongkar total mesin. Berbeda dengan cara-cara lain yang harus
membongkar total mesin dan masih harus memasangnya kembali.
3. Mesin menjadi lebih
awet
Ketika cara ini sudah diterapkan pada suatu mesin motor maka cara ini akan
membuat mesin motor tersebut menjadi lebih awet dibandingkan dengan cara
pemadatan kompresi lainnya. Karena
cara ini tidak mengubah secara total konstruksi mesin agar menjadikan mesin
menjadi awet. Berbeda dengan cara pemadatan kompresi
lainnnya yang mengubah total konstruksi mesin agar mendapatkan tenaga yang
maksimal dengan tidak memperhatikan akibatnya pada mesin setelah pengubahan
tersebut.
4. Lebih irit bahan
bakar dibandingkan dengan cara-cara pemadatan kompresi lainnya.
Cara ini dapat lebih irit dibandingkan dengan cara lain,
karena cara ini pada dasarnya tidak menaikkan volume pada blok silinder atau cc, melainkan
hanya memadatkan kompresi tanpa menaikkan volume blok silinnder atau cc.
Oleh sebab itu, cara ini lebih irit bahan bakar dibandingkan dengan cara-cara
pemadatan kompresi lainnya.
5. Paling efektif
dibandingkan dengan cara-cara yang lain
Cara ini paling efektif dibandingkan dengan cara
lain, karena pada cara ini hanya dengan memapras bagian head silinder saja sudah
dapat menambah tenaga dari mesin yang dipadatkan kompresinya tersebut. Tidak perlu mengubah total konstuksi mesin
karena hanya akan membuat mesin menjadi tidak awet.
6. Dapat diterapkan
pada semua jenis kendaraan
Cara ini dapat diterapkan pada semua jenis kendaraan.
Karena pada setiap mesin motor pasti mempunyai bagian yang bernama head silinder dan juga dapat di setting sesuai kebutuhan, tidak
terkecuali motor injeksi. Cara ini juga dapat diterapkan pada motor injeksi. Karena
pada dasarnya motor injeksi juga memiliki head
silinder dan perbedaanya hanya pada karburator.
Jika dibandingkan dengan motor biasa, motor injeksi tidak memiliki karburator yang dapat di setting. Tetapi motor injeksi memiliki sensor injeksi sebagai pengganti karburator, dan pada dasarnya alat ini
sama fungsinya dengan karburator.
Jadi cara ini dapat diterapkan pada setiap jenis kendaraaan.
Di samping
keuntungan cara ini juga memiliki kerugian atau kekurangan, antara lain sebagai
berikut.
1. Mesin menjadi lebih cepat
panas
Mesin motor akan lebih cepat panas apabila bahan bakarnya
tidak sesuai, misalnya motor tersebut masih menggunakan bensin. Mesin yang
sudah dipadatkan kompresinya akan
cepat panas ketika menggunakan bahan bakar bensin, karena pada bensin nilai
oktannya terlalu rendah untuk digunakan pada mesin yang sudah dipadatkan kompresinya. Mesin ini berbeda dengan
mesin-mesin pada motor standar. Mesin ini membutuhkan bahan bakar yang memiliki
nilai oktan tinggi, agar mesin tidak cepat panas dalam pemakaian-nya.
2. Apabila bahan bakar
tidak sesuai, kotoran hasil pembakaran akan cepat menempel dan menumpuk di
ruang pembakaran
Mesin yang sudah dipadatkan kompresinya membutuhkan bahan bakar yang sesuai, yaitu bahan bakar
yang memiliki nilai oktan tinggi. Dalam proses pembakarannya pada mesin yang
sudah dipadatkan kompresinya bahan
bakar ini akan dapat dibakar secara sempurna, sehingga tidak meninggalkan
kotoran atau kerak pada ruang pembakaran. Sebaliknya ketika bahan bakar yang
digunakan tidak sesuai dengan mesin maka dalam proses pembakarannya akan
meninggalkan kotoran dan kerak. Lama-kelamaan akan menumpuk dan terjadi
kebojoran pada katub, sehingga akan mengakibatkan tenaga mesin menjadi
berkurang.
3. Mempunyai risiko
yang cukup tinggi dalam pengerjaannya
Dalam proses pengerjaannya, cara ini mempunyai risiko
yang cukup tinggi. Misalnya dalam perhitungannya harus sesuai dengan jenis
kendaraan yang akan dipadatkan kompresinya,
karena setiap kendaan memiliki karakter yang berbeda. Apabila dalam perhitungannya ada kesalahan sudah
dipastikan mesin tersebut tidak akan tahan lama, dan akan cepat mengalami
kerusakan.
4. Harus sering
mengecek kendaraan ke bengkel
Mesin motor yang sudah dipadatkan kompresinya harus sering dicek
keadaannya ke bengkel, karena mesin ini dapat sewaktu-waktu mengalami
kerusakan. Oleh sebab itu, harus sering mengecek kendaraan ke bengkel.
2.4
Kendala-Kendala yang Dialami ketika Memadatkan Kompresi dengan Cara Memapras Head
Silinder.
Berikut beberapa kendala yang dihadapi ketika
memadatkan kompresi dengan cara
memapras head silinder, antara lain
sebagai berikut.
1.
Dibutuhkan ketelitian yang tinggi ketika membubut atau memapras head silinder
Dalam proses pengerjaannya, cara ini
memiliki banyak kendala yang akan dialami, misalnya masalah ketelitian.
Ketelitian sangat mutlak diperlukan dalam proses pengerjaan memapras head silinder. Ada beberapa aspek
ketelitian yang diperlukan dalam proses ini, misalnya ketelitian dalam
perhitungan, pemaprasan/pembubutan, dan pemasangan.
Perhitungan akan dilakukan ketika
mesin dalam keadaan standar yaitu pada saat sebelum dipapras. Perhitungan ini
dilakukan sesuai jenis kendaraan yang akan dipapras head silindernya. Hal ini
sagat membutuhkan ketelitian yang tinggi agar pada waktu proses pemaprasannya
tidak terjadi kesalahan, yang akan berakibat fatal pada mesin. Begitu juga
dengan proses yang selanjutnya, sangat diperlukan ketelitian sehingga dapat
meperolh hasil yang maksimal.
2.
Dibutuhkan perhitungan yang cukup lama untuk menyesuaikan tekanan kompresi pada suatu mesin
Dalam proses pengerjaannya, cara ini
juga memiliki kendala yang berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan. Dalam proses
perhitungannya waktu yang dibutuhkan dalam proses ini cukup lama, karena dalam
perhitungan membutuhkan penyesuaian dengan jenis kendaraan yang akan
dikerjakan. Pada dasarnya setiap kendaraaan memiliki karakter mesin yang
berbeda oleh sebab itu, cara ini membutuhkan waktu yang cukup lama agar
mendapatkan hasil yang maksimal.
2.5
Cara-Cara Perawatan Mesin yang Sudah Dipadatkan Kompresinya.
Menurut Wiranto
(1986:53), beberapa cara yang dapat dijadikan pedoman dalam perawatan mesin
yang sudah dipadatkan kompresinya,
antara lain sebagai berikut.
1.
Gunakan
merk oli yang baik (tidak palsu).
2.
Cek
secara berkala kondisi motor biasanya sekitar 1500 - 2000 km.
3.
Perhatikan
detail motor, jika merasakan hal aneh segera periksakan, jangan di diamkan.
4.
Jangan
pernah menggunakan barang palsu, terutama untuk bagian mesin. Lakukan servis
rutin biasanya antara 2000-5000 km sekali.
5.
Dianjurkan
memakai BBM yang nilai oktannya tinngi misalnya pertamax biru (92) atau
pertamax plus (95) agar mesin menjadi lebih awet.
Menurut
Warsowihono (1986:25), “perawatan berkala yang dilakukan konsumen sangat tepat
dan penting untuk menghindari kerusakan yang lebih fatal dan berkurangnya daya
kerja mesin”. Dari pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perawatan
pada kendaraan sangat penting apalagi untuk kendaraan yang mesinnya sudah
dipadatkan kompresinya. Kendaraan
tersebut membutuhkan perawatan-perawatan secara berkala agar dapat menjaga
kestabilan mesin.
Ada
beberapa cara yang juga dapat dilakukan dalam perawatan mesin yang sudah
dipadatkan kompresinya. Misalnya
mengganti spare part atau bagian pada
mesin yang jangka waktu pakainya telah habis atau hampir habis misalnya busi setiap
5000 km sekali dan oli mesin setiap 2000-2500 km sekali. Mengganti oli mesin
adalah salah satu cara yang paling efektif untuk perawatan mesin agar dapat menjadi
lebih awet. Karena oli mesin sangat berperan dalam pelumasan mesin, terutama
bagian dalam mesin. Bagian dalam mesin misalnya piston, gigi transmisi,
dan stang piston sangat membutuhkan
pelumasan ketika mesin dihidupkan. Satu-satunya pelumas yang paling efektif
adalah dengan memberi pelumas pada mesin yaitu oli.
Perawatan-perawatan
tersebut dapat dilakukan di bengkel-bengkel resmi maupun swasta. Pada bengkel
resmi biasanya disediakan spare part
yang apabila spare part pada
kendaraan konsumen sudah tidak layak pakai maka akan dapat langsung diganti dengan yang baru. Perawatan
ini harus dilakukan oleh teknisi-teknisi yang andal agar mendapatkan hasil yang
memuaskan.
3. PENUTUP
Memapras/membubut
head silinder merupakan suatu cara
alternatif baru bagi para pecinta otomotif untuk memodifikasi kendaraannya
dengan cara memadatkan kompresi agar mesin menjadi lebih bertenaga tanpa
membutuhkan biaya yang mahal. Selain ekonomis, cara ini juga masih memiliki
banyak kelebihan dibandingkan dengna cara-cara yang lain. Cara ini lebih
praktis, efisien, dan yang lebih menguntungkan lagi adalah mesin menjadi lebih
irit serta membuat mesin menjadi lebih awet.
Selain itu, cara ini hanya mengubah sedikit
dari mesin tersebut, tetapi dapat menghasilkan tenaga yang maksimal. Dibandingkan
dengan cara lain yang mengubah total mesin tetapi hasil yang dihasilkan kadang
kurang maksimal. Dengan perhitungan tekanan kompresi
yang baik dan benar maka akan dihasilkan tenaga suatu mesin tersebut menjadi
lebih maksimal.
Ada
beberapa cara yang dapat dilakukan untuk perawatan mesin motor yang sudah dipadatkan
kompresinya. Misalnya gunakan selalu
oli dengan merk yang baik, cek selalu kondisi motor, dianjurkan memakai BBM
yang memiliki nilai oktan tinggi. Hal ini bertujuan agar mesin yang sudah
dipadatkan kompresinya dapat menjadi
lebih awet dengan adanya perawatan-perawatan tersebut. Dalam
perawatan-perawatan tersebut harus dilakukkan oleh teknisi-teknisi yang andal
agar mendapat hasil yang maksimal.
Daftar Rujukan
Arianto,
A. 2011. Cara Meningkatkan Kompresi pada
Motor, (Online), (http://brandalmotorspeed.blogspot.com/2011/12/cara-meningkatkan-kompresi-pada-motor.html), diakses 1
Desember 2012.
Daryanto.
1999. Teknik Otomotif. Jakarta: Bumi
Asih.
Daryanto.
2002. Teori & Perawatan Mesin Mobil.
Bandung: CV Yrama Widya.
Warsowiwoho.
1986. Pentingnya Perawatan Mesin Motor.
Jakarta: Rikojaya.
Wiranto,
A. 1986. Pedoman untuk Mencari Sumber
Kerusakan, Merawat, dan Menjalankan
Kendaraan Bermotor. Jakarta: Pradnya Paramita.

Mohon pencerahan untuk jupiter z dngan piston kaze pucking blok gak di pasang apa itu juga salah satu cara mnaikan kompresi.???
BalasHapus